Suasana audiensi kelangkaan gas elpiji 3 kg di ruang Banmus DPRD Babel. (babel.indozone.id/revi setiawan)
BANGKA BELITUNG -- Kelangkaan gas elpiji 3 Kg, tak luput dari sorotan tokoh masyarakat Ahmadi Sopian, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Bangka Belitung dan Asosiasi Pedagang Kaki Lima Indonesia (APKli) Babel.
Mereka beranggapan pihak Pertamina tidak peka terhadap kondisi di lapangan, khususnya terkait kelangkaan gas elpiji 3kg dalam satu bulan terakhir ini. Bahkan saat audiensi dengar pendapat yang berlangsung di Banmus DPRD Provinsi Babel, salah satu pedagang yang hadir sempat menyemprot Satryio Wibowo Wicaksono selaku Sales Area Manager (SAM) PT Pertamina Patra Niaga Bangka Belitung, saat itu fokus pada handphone miliknya.
"Tolong itu HP nya simpan dulu, jangan sibuk main HP, dengarkan keluhan kami - kami ini," celetuk salah satu pedagang dengan nada meninggi.
Mendengar hal itu, Ketua DPRD Babel Didit Sri Gusjaya langsung meresponnya dengan memintanya untuk tenang selama audiensi berjalan.
"Tenang dulu pak, ada saatnya bergiliran mungkin Pak Satriyo sedang mencatat keluhannya bapak bapak lewat ponselnya, " ucap Didit.
Baca juga: Gas Melon Langka Bangka Belitung, Pedagang Puasa Jualan 3 Minggu, Harga Pengecer Tembus Rp50 000
Dalam kesempatan itu perwakilan APKLI Babel, Tommy meminta Pertamina untuk berjiwa besar mengakui kelalaiannya dalam pendistribusian gas di Bangka Belitung.
Menurutnya, alasan faktor cuaca penyebab langkahnya gas melon, merupakan alasan 'klise' untuk menjawab kelalaian dan tidak pekanya Pertamina terhadap kondisi lapangan satu bulan ini.
"Ini alasan klasik Pertamina, setiap tahun selalu terjadi seperti ini. Jelas ini sebuah kelalaian dan Pertamina harus mintaa maaf kepada masyarakat," Kata Tommy.
Masih kata Tommy, saat ini ada ratusan pedagang dibawah naungan APKLI, terkait hal itu pihaknya siap bermitra dengan Pertamina untuk memenuhi kebutuhan pedagang, tidak lagi lewat agen pangkalan elpiji.
"Kalau memang memungkinkan dan ada regulasinya, kami siap bermitra dengan Pertamina, khususnya untuk membantu pendistribusian gas elpiji 3kg, khususnyan untuk pedagang kaki lima," ucap Tomy.
Senada disampaikan Ketua umum Himpunan Mahasiswa Islaam (HMI) cabang Provinsi Bangka Belitung, Vahren Aliarsyd, kelangkaan elpiji 3kg sangat berdampak pada perekonomian masyarakat, baik ibu rumah tangga, terkhusus para pedagang kaki lima.
Menurutnya, pihak Pertamina tidak pernah belajar dengan kondisi yang ada di masyarakat. Faktor cuaca bukan alasan Pertamina, terkait langkanya gas melon. Tak hanya itu saja, bentuk pengawasan Pertamina dalam pendistribusian gas elpiji 3 Kg sangatlah lemah, hal itu berbanding terbalik dengan harga gas melon dimasyarakat, termasuk di agen elpiji sendiri.
"Pertamina tidak pernah peka, siapa pengguna gas melon sebenarnya. Kalau mau jujur dan kita tidak bisa tutup mata, banyak restoran-restoran yang menggunakan gas subsidi 3 kg, termasuk banyak juga kalangan masyarakat kelas menengah keatas menggunakan gas elpiji," ungkapnya.
"Sampai sejauh mana pengawasan Pertamina terhadap pendistribusian gas elpiji 3kg ke agen yang sudah dipatok HET Rp 18.000, tapi masih ada yang menjual dari harga yang sudah ditetapkan, tidak tertutup kemungkinan ada kerjasama agen dengan pihak lain yang dijual dengan harga lebih tinggi. Kalau ada indikasi agen nakal, beri tindakan tegas, " tukasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Dan Wawancara