Nirok Nanggok, Tradisi Masyarakat Belitung Saat Musim Kemarau Panjang Lestari Hingga Sekarang
BANGKA BELITUNG -- Nirok Nanggok adalah tradisi yang dilakukan pada musim kemarau panjang. Akibat kemarau panjang yang terjadi pada bulan Agustus hingga September ini, membuat banyak sungai di Belitung mengalami penyurutan debit air secara drastis.
Nah dari kondisi sungai yang surut inilah kemudian didapati banyak ikan yang mudah didapat karena berkumpul atau terjebak dalam lembong.
Dari kejadian berulang-ulang setiap tahunnya berwujud kemarau panjang yang membuat rawa-rawa dan sungai mengering tersebut kemudian ditetapkan agenda acara Nirok Nanggok.
Untuk mendapatkan ikan di sungai saat tradisi Nirok Nanggok sendiri dibutuhkan dua alat yaitu tirok dan tanggok. Dua alat inilah yang memang kemudian dijadikan penamaan untuk tradisi unik di Belitung tersebut.
Tirok sendiri adalah alat yang berwujud secamam tongkat kayu dengan dipasang mata tombak pada bagian pangkalnya. Sementara itu Tanggok adalah alat yang terbuat dari rotan dan berwujud semacam jala kecil untuk menangkap ikan. Dengan kedua alat tersebut nantinya para warga masyarakat akan terjun ke sungai untuk mendapatkan ikan sebanyak-banyaknya.
Acara Nirok Nanggok memang bukan acara menangkap ikan seperti biasanya. Tapi dalam agenda Nirok Nanggok, ada sebuah tahapan dan beberapa aturan yang ditetapkan.
Tidak hanya itu karena merupakan sebuah tradisi atau upacara adat, maka Nirok Nanggok ini terbilang sakral. Ini karena saat diadakan, Nirok Nanggok menghadirkan Dukun Kampong dan Dukun Air sebagai pemimpin acara dan juga dihadiri para pemuka kampong. Bagian paling sakral dari acara Nirok Nanggok sendiri adalah ketika dukun kampong memanjatkan doa sebagai perwujudan rasa syukur terhadap Tuhan Yang Maha Esa atas rezeki yang telah diperoleh melalui alam semesta.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: