Sejarah Belitung Timur (damaraisyah.com)
BANGKA BELITUNG -- Pulau Belitung (Billiton, menurut cara penulisan Belanda) diperkirakan sudah dikenal pada abad ke-7 dan bersama-sama dengan pulau Bangka berada di bawah wilayah kekuasaan Sriwijaya.
Dalam kitab Negarakertagama karangan Mpu Prapanca yang bertanggal 1365, nama pulau Belitung terlukis dalam syair untuk Raja Hayam Wuruk. Diperkirakan pada abad 14 pulau Belitung menjadi wilayah kekuasaan Majapahit.
Pada tahun 1812 pulau Bangka dan Belitung jatuh ke dalam kekuasaan Inggris sebagai akibat dari kekalahan Kesultanan Palembang dari Inggris.
Pada masa kekuasaan Inggris, Residen Inggris di Bangka, Mayor Gourt mengangkat Raja Akil dari Siak sebagai kepala pulau Belitung dan bukan K.A. Mohammad Hatam gelar Depati Cakraningrat VII yang merupakan pewaris Kerajaan Balok.
Untuk melenggangkan kekuasaannya, Raja Akil berusaha menyingkirkan K.A Hatam, dan dalam suatu penyerbuan K.A. Hatam akhirnya dibunuh di rumahnya oleh Raja Akil.
Sedangkan anaknya yang bernama K.A Rahad berhasil melarikan diri meski mengalami luka parah. K.A Rahad kemudian diangkat menjadi Depati Cakraningrat VIII menggantikan ayahnya yang terbunuh.
Pada tahun 1814 terjadi kesepakan antara Inggris dan Belanda yang ditandatangani di London yang dikenal juga dengan Anglo-Dutch Treaty atau Konvensi London.
Salah satu isi dari Konvensi London adalah bahwa Inggris akan menyerahkan Kepulauan Bangka dan Belitung untuk ditukar dengan wilayah Cochin di India dan di Pesisir Malabar.
Inggris akhirnya menyerahkan Bangka dan Belitung kepada Belanda sebagai bagian dari kesepakatan Konvensi London dimana salah satu isi dari kesepakatan ini adalah Inggris menarik mundur posisinya dari pendudukan pulau Billiton.
Penyerahan Belitung dan Bangka kepada Belanda ini terjadi dengan alot. karena Inggris enggan untuk melepaskan kekuasaannya atas tambang timah di Bangka. Persetujuan mengenai penyerahan Bangka dan Belitung tercapai pada 1817.
Pecahnya perang pasifik yang ditandai dengan diserangnya Pearl Harbour oleh pasukan Jepang pada tanggal 7 Desember 1941 membuat Hindia Belanda turut merasakan dampaknya.
Pemerintah Hindia Belanda yang tergabung dengan sekutu menyatakan perang terhadap Jepang.
Hindia Belanda kini menjadi sasaran selanjutnya dari Jepang yang juga menginginkan menguasai sumber alam terutama minyak bumi dan timah untuk kebutuhan perangnya. Pada tanggal 28 Februari 1942 pulau Belitung diserang melalui udara oleh pasukan Jepang.
Hal ini menimbulkan kepanikan di kalangan penduduk. Akibatnya penduduk kota mengungsi ke kampung-kampung, sementara sebagian besar orang Eropa mengungsi ke pulau Jawa melalui jalur laut.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Portal.beltim.go.id