BANGKA BELITUNG -- Wilayah Pecinan di Bangka Belitung tersebar di beberapa titik ikonik, dengan pusat tertuanya berada di Kampung Gedong (Kecamatan Belinyu) dan pengembangan destinasi wisata terbaru di Jalan S. Parman (Kota Sungailiat).
Kawasan bersejarah dan budaya Tionghoa ini memiliki karakteristik dan lokasinya masing-masing:
Kampung Gedong (Belinyu, Kabupaten Bangka), diakui sebagai perkampungan Pecinan paling awal di Pulau Bangka.
Dihuni oleh keturunan suku Hakka (Guangdong) yang didatangkan sejak abad ke-18. Beberapa rumah tradisional di sini masih dipertahankan keasliannya tanpa menggunakan paku.
Kawasan Jalan S. Parman (Sungailiat, Kabupaten Bangka): Kawasan Pasar Sungailiat ini telah menjadi pusat perayaan Imlek dan sejak 2026 dikembangkan secara resmi oleh pemerintah daerah menjadi destinasi wisata budaya Pecinan yang dilengkapi ornamen khas seperti lampion dan pusat kuliner.
Kompleks Makam Sentosa (Pangkalpinang): Terletak di Jalan Soekarno-Hatta, ini adalah area pemakaman Tionghoa yang diyakini sebagai yang terbesar di Asia Tenggara dengan luas hampir 20 hektar.
Pemerintah Kabupaten Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung merancang pengembangan kawasan Pecinan di pusat Kota Sungailiat guna melestarikan budaya dan kearifan lokal.
Bupati Bangka Fery Insani di Sungailiat, Jumat lalu mengatakan pengembangan kawasan Pecinan untuk melestarikan budaya Tionghoa dengan tetap mempertahankan kearifan lokal.
"Identitas budaya Tionghoa dan kearifan lokal di pusat Kota Sungailiat harus tetap terjaga karena memiliki nilai historis yang panjang," katanya.
Ia menjelaskan untuk mewujudkan pengembangan kawasan tersebut harus memperkuat sinergi antara pemerintah daerah, masyarakat, dan pemangku kepentingan.
"Konsep yang dikembangkan dalam kawasan itu nantinya, terbangunnya destinasi wisata berbasis budaya, yang tertib, indah, memiliki nilai sejarah sehingga menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan dan ekonomi daerah," kata dia.
Fery Insani berpendapat bahwa untuk menarik wisatawan masuk Bangka tidak hanya menawarkan objek wisata pantai yang indah dengan bentangan pasir putih, namun kekhasan budaya yang diwariskan secara turun-temurun menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan.
Berdasarkan letak geografi sekitar 30 kilometer dari Kota Pangkalpinang, Ibu Kota Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Kota Sungailiat merupakan kawasan multietnis, termasuk suku Tionghoa yang sudah lama berbaur dengan masyarakat setempat.
"Etnis Tionghoa sudah sejak tinggal di Bangka, khususnya di Kota Sungailiat atau masa pertambangan timah dan berinteraksi secara harmonis dengan masyarakat Melayu," kata Bupati Bangka Fery Insani.
Dia mengajak masyarakat di daerah itu mendukung semua program pemerintah guna kepentingan pembangunan dan kesejahteraan masyarakat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: