Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Jumat, 24 JULI 2026 • 20:24 WIB

Mengenang Jasa Pahlawan Depati Amir, Pejuang Kemerdekaan Bersejarah Asal Bangka Belitung

Mengenang Jasa Pahlawan Depati Amir, Pejuang Kemerdekaan Bersejarah Asal Bangka BelitungPahlawan Depati Amir (ist)

BANGKA BELITUNG -- Salah satu sejarah kecil yang belum banyak mengudara dalam perbincangan panggung sejarah nasional adalah kisah perjuangan Depati Amir, pahlawan asal Pangkalpinang (Bangka) yang gigih membebaskan rakyatnya dari belenggu penjajah pada sekitar 1850-an.

Hamparan cerita rakyat terkait sosok pejuang ini seakan tak pernah lekang diterpa waktu. Pengabadian nama Depati Amir di beberapa fasilitas publik, seperti jalan dan bandara, di Pangkalpinang merupakan wujud kecintaan dan penghormatan yang tinggi atas Depati Amir. Namun begitu, pemaknaan tersebut akan terkesan dangkal apabila generasi muda masa kini hanya sebatas mengenal nama tanpa ada upaya pengkajian secara intensif sejarah hidupnya. Agaknya hal ini yang perlu diperhatikan oleh pihak terkait.

Depati Amir Pejuang Gigih

Depati Amir dikenang oleh penduduk Bangka sebagai pejuang yang gigih mempertahankan tanah air dari cengkeraman Belanda. Semasa perang gerilya, ia tidak membatasi pergaulan hanya pada bangsa Melayu yang muslim, namun juga menjalin pergaulan dengan orang Cina. Ini merupakan satu kasus yang menarik dalam historiografi nasional. Peran orang Cina belum terlihat dalam upaya melawan penjajah, namun pengecualian ditemukan dalam kisah perjuangan Depati Amir.

Selama lebih dari 3 atau 4 bulan pada tahun 1850, Belanda belum bisa meringkus Depati Amir. Dalam menjalankan aksinya, Amir kerapkali dibantu oleh para koleganya yang bukan hanya orang Melayu melainkan juga orang Cina.

Di antara mereka adalah: King Tjoan (mantan mandor tambang di Blinyu, Budjang Singkep, Akei Asan (si Hasan), Oebien, Bengol, Tata, Dayo, Dasum, Ko So Sioe (mantan centeng Cina di tambang Singlo, Sungailiat), Lanang Amo, Tje Ling Ie, Lo Adjien, Iksam (orang Cina dari Blinyu), Moksin dan Katak ( Orang Cina dari Pangkalpinang).

Ko So Sioe yang memutuskan keluar dari tambang di Sungailiat dan bergabung dengan Amir. Selain ia, masih banyak orang Cina yang memiliki tugas khusus dalam jejaring pasukan Depati Amir. Lanang Amo, Tyo Seng, dan Lok Adjin berserikat pada gerakan Depati Amir dengan memasok senjata siap pakai seperti tombak, klewang, dan lain-lain.

Adapun Mohsin dan Katak, membantu pemeberontakan di tambang Seroe. Raman, Aim, dan King Tjoan (orang-orang Cina yang masuk Islam) sukses mengajak 60 orang pengembara (pengangguran) berkumpul di Batin Maros untuk bergabung dalam kesatuan Amir. Ketiga nama itu dikenang pula sebagai pemasok persenjataan dari Singapura.

Kolaborasi Amir dengan orang Cina kembali ditunjukkan mereka membakar tambang Sungailiat. Kejadian ini terjadi sebelum ditetapkannya Depati Amir sebagai target DPO (Daftar Pencarian Orang). Dalam kesempatan ini Amir dibantu oleh 30 sampai 40 orang Cina.

Dalam suatu serangan di Ampang, barisan Amir mendapat bantuan dari seorang Cina bernama Tjing yang menebarkan racun pada nasi yang akan dihidangkan kepada tentara kolonial.

Baik Amir maupun Tjing, dinpadang Belanda merupakan sepasang pejuang yang berbahaya. Dalam korespondensi lintas pemerintah, nama-nama mereka kerapkali disebutkan sebagai tokoh penting biang keladi kerusuhan di Bangka. Keduanya ibarat representasi dua etnis dominan yang mendiami Pulau Bangka, Melayu dan Cina.

Baik penguasa pribumi maupun pembesar Cina di daerah itu tak segan membantu perjuangan mereka. Adalah Oen Bing Hee, letnan Cina di Merawang, turut membantu kerja barisan Amir. Di kalangan pribumi, Demang Sura Mengala merupakan salah satu sahabat Amir yang turun menggalang dana untuk melanjutkan perjungan Amir.

Berbagai upaya dilakukan Belanda untuk menangkap depati Amir. Dalam surat kapten komandan infanteri ke 1, Doorschodt, kepada mayor komandan militer untuk Bangka yang berkedudukan di Mentok, Rumah Bakem tanggal 24 Juli 1850 no. 96.

Ia mengisahkan bahwa pada tanggal 23 Juli 1850, datang seseorang kepada Doorschodt yang memberikan penjelasan bahwa di malam ini, Amir, Awang, serta gerombolan perusuh (pejuang) akan berkumpul di Pako. Segera sang komandan membuat rencana penyerangan tiba-tiba dengan menyiapkan sepasukan dibantu oleh Letnan Dua Doerleban berkekuatan 50 opsir beserta 25 barisan pasukan yang berangkat pada malam hari pukul 1.

Diceritakan pula, kondisi jalanan di kampung Paya Raya amat bagus hingga sampai di kaki gunung yang dikelilingi hutan, kondisi jalan dipenuhi lumpur yang dalam sehingga menghambat laju pasukan. Baru pada pukul 4. 30 ekspedisi itu sudah dekat dengan kampung yang dimaksud.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

BERITA TERBARU

Mengenang Jasa Pahlawan Depati Amir, Pejuang Kemerdekaan Bersejarah Asal Bangka Belitung

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!