BANGKA BELITUNG -- Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI) mendesak Pemerintah Daerah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung untuk memberikan dukungan nyata bagi perguruan tinggi swasta (PTS) guna mendongkrak Angka Partisipasi Kasar (APK) pendidikan tinggi yang masih rendah.
Selain menilai angka partisipasi pendidikan tinggi di Bangka Belitung masih rendah, APTISI juga mengajak seluruh pemangku kepentingan memperkuat kolaborasi untuk meningkatkan kualitas pendidikan tinggi di daerah.
Ketua Umum APTISI Budi Djatmiko, M.Si., M.E.I., mengatakan pembangunan sumber daya manusia melalui pendidikan tinggi merupakan investasi jangka panjang yang sama pentingnya dengan pembangunan infrastruktur fisik.
Menurutnya, Angka Partisipasi Kasar (APK) pendidikan tinggi di Bangka Belitung masih tergolong rendah sehingga membutuhkan perhatian serius dari pemerintah daerah.
"APK Bangka Belitung masih rendah. Ini harus menjadi perhatian kita bersama. Kalau ingin daerah maju, investasi terbesar bukan hanya membangun gedung, tetapi membangun manusianya melalui pendidikan tinggi," kata Budi pada Sabtu (25/07/2026).
Pada pelantikan Pengurus APTISI Wilayah Kepulauan Bangka Belitung periode 2026–2031 yang digelar di Kampus Institut Sains dan Bisnis Atma Luhur Pangkalpinang
Ia menilai peningkatan akses pendidikan tinggi membutuhkan dukungan nyata pemerintah daerah, baik melalui kebijakan maupun pembiayaan.
Sebagai contoh, Budi menyebut Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur telah memiliki dana abadi untuk mendukung perguruan tinggi swasta.
"Di Jawa Barat, gubernur, bupati sampai wali kota ikut membantu perguruan tinggi swasta. Akhirnya APK meningkat dan kampus-kampus menjadi lebih sehat. Ini yang saya harapkan juga bisa dilakukan di Bangka Belitung," ujarnya.
Ia juga meminta pengurus APTISI Bangka Belitung membangun bargaining position yang kuat dengan pemerintah daerah melalui data serta kontribusi nyata perguruan tinggi swasta terhadap pembangunan daerah.
"Kita harus menunjukkan kontribusi nyata perguruan tinggi swasta terhadap pembangunan daerah. Kalau kontribusi itu terlihat, pemerintah akan lebih mudah memberikan dukungan," katanya.
Budi menambahkan, investasi di sektor pendidikan akan memberikan dampak yang jauh lebih berkelanjutan dibandingkan pembangunan fisik semata.
"Membantu membangun gedung memang terlihat hasilnya. Tetapi membantu pendidikan tinggi dampaknya jauh lebih besar meskipun hasilnya baru dirasakan beberapa tahun kemudian. Investasi SDM itu jauh lebih abadi," ujarnya.
Selain mendorong dukungan pemerintah daerah, Budi juga mengingatkan perguruan tinggi swasta agar terus bertransformasi menghadapi perubahan dunia pendidikan.
Menurutnya, kampus tidak lagi cukup mengandalkan metode pembelajaran konvensional, tetapi harus memperkuat kolaborasi dengan dunia usaha melalui konsep Outcome Based Education (OBE).
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: