BANGKA BELITUNG -- Jembatan Emas atau Jembatan Baturusa 2 di Bangka Belitung kini sudah tidak berfungsi lagi. Ikon yang menjadi kebanggaan masyarakat Bangka Belitung itu kini hanya menjadi pajangan, alias tidak bisa berfungsi.
Naasnya lagi, belum lama ini terjadi Insiden kecelakaan laut, bermula ketika tongkang Blue Shapire yang digandeng kapal TB. Majestix Artic hendak masuk ke galangan PT Wijaja Mandiri. Saat olah gerak, kapal sempat kandas dan harus melepas tali gandeng.
Namun, arus dan angin kencang membuat tongkang tak terkendali hingga menabrak bantalan pengaman Jembatan Emas.
Pemerintah Provinsi Bangka Belitung (Pemprov Babel) memastikan pembangunan kembali pengaman sisi alur sungai Jembatan Emas yang rusak akibat tabrakan tongkang Blue Shapire akan dimulai paling lambat pada 1 Januari 2026.
Tingginya biaya operasional menjadi penyebab utama Jembatan ini stop beroperasional.
"Jembatan itu sudah saya buka untuk bisa dilewati kapal, dan tidak bisa dilewati kendaraan bermotor. Selama lima tahun saya bertugas akan ditutup karena biaya sangat tinggi, biaya hampir Rp1,6 Miliar satu tahunnya itu anggaran bisa kita untuk lain," ujar Hidayat Arsani beberapa waktu lalu saat peninjauan ke alur Pelabuhan Pangkalbalam.
Kebijakan tersebut dilakukan, guna mengantisipasi kerusakan sistem buka tutup jembatan yang nantinya akan berdampak kepada perekonomian di Provinsi Bangka Belitung.
"Tidak ada jaminan suatu hari mesinnya jebol, karena sparepart tidak adalagi di dunia ini," ucapnya.
Sementara itu pihaknya juga menyampaikan permohonan maaf khususnya, kepada masyarakat yang menggunakan transportasi darat.
"Jadi saya sebagai gubernur mohon maaf kepada rakyat jembatan ini terpaksa saya buka, demi keselamatan tranportasi pelabuhan ini. Kalau tutup yang masuk tidak bisa yang keluar tidak bisa, maka terjadi kelumpuhan ekonomi," ungkapnya.
Tentang Jembatan Emas:
Lokasi dan Fungsi: Jembatan Emas menghubungkan antara Desa Air Anyir di Kabupaten Bangka dengan Kelurahan Air Itam di Kota Pangkalpinang, melintasi muara Sungai Baturusa yang menuju Laut Tiongkok Selatan.
Teknologi unik: Keunikannya terletak pada teknologi bascule yang memungkinkan bagian tengah jembatan terangkat, membuka alur untuk kapal yang melintas.
Pembangunan dan Peresmian: Pembangunannya dimulai oleh Pemprov Bangka Belitung pada tahun 2009 dan beroperasi mulai tahun 2017.
Manfaat awal: Jembatan ini awalnya dimaksudkan untuk memperlancar akses menuju Sungailiat atau Belinyu, mengurangi kepadatan lalu lintas di Pangkalpinang, serta sebagai pusat perekonomian dan tujuan wisata.
Kondisi saat Ini (2025):
Penghentian Operasi: Pada Mei 2025, Gubernur Bangka Belitung memutuskan untuk menghentikan operasi jembatan ini untuk sementara waktu, bahkan hingga 5 tahun ke depan.
Alasan penghentian: Penghentian ini disebabkan oleh mahalnya biaya operasional dan pemeliharaan, serta sulitnya menemukan komponen bascule yang tidak lagi diproduksi oleh produsennya.
Posisi jembatan: Bagian tengah jembatan saat ini dibiarkan dalam posisi terbuka.
Dampak: Pengendara tidak bisa lagi melintasi jembatan, meskipun masyarakat masih bisa berswafoto di lokasi tersebut.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan