Senin, 08 JUNI 2026 • 21:12 WIB

Ini Fakta Menarik Tentang Kota Terluas di Bangka Belitung

Author

Gereja Maranatha, Masjid Kubah Timah, Alun Alun Taman Merdeka dan Tugu Nol Kilometer Kota Pangkalpinang (ist)

BANGKA BELITUNG -- Kota Pangkalpinang merupakan ibukota dari Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yang berada di sebelah timur Pulau Bangka. Kota ini berbatasan langsung dengan Kabupaten Bangka di bagian Utara dan Barat, Kabupaten Bangka Tengah di bagian Selatan, dan Laut Cina Selatan di bagian Timur.

Secara etimologi, nama ‘Pangkalpinang’ berasal dari dua kata yaitu Pangkal yang berarti pusat atau awal mula (bahasa Melayu Bangka) sedangkan kata Pinang berasal dari pohon Pinang. Kota yang sudah berkembang sejak tahun 1757 ini memiliki luas wilayah sebesar 118,41 km2 dan terbagi atas tujuh kecamatan, 42 Kelurahan, 114 Rukun Warga (RW), dan 355 Rukun Tetangga (RT).

Berdasarkan data BPS, Kota Pangkalpinang memiliki jumlah penduduk sebanyak 216.893 orang (tahun 2020) dan laju pertumbuhan sebesar 2,02%. Dengan kepadatan penduduk sebesar 1.755 orang per km2, Kota Pangkalpinang menjadi daerah terpadat di Kepulauan Bangka Belitung jika dibandingkan dengan kabupaten-kabupaten lainnya yang ada di provinsi tersebut.

Beberapa inovasi yang dilakukan oleh Wali kota Pangkalpinang yang bertujuan untuk memperbaiki kondisi di kota Pangkalpinang antara lain:

Taman vertikal Semabung
Taman vertikal Dino
Tugu Kerito Surong
Tugu Sinergi HIPMI PGK
Lampu Beribu Senyuman
Taman Median Pasar
Lampu Perampai PGK
Panggung Ekspresi PGK
Taman Senja Delova18-2023.

Berikut fakta menarik Kota Pangkalpinang yang berjuluk Kota Beribu Senyuman itu:

1. Sejarah Kota Pangkalpinang

Hari Jadi Kota Pangkalpinang bertepatan dengan peristiwa pembentukan daerah ini oleh Sultan Susuhunan Ahmad Najamuddin Adi Kesumo. Sultan Adi Kesumo ini merupakan Sultan Palembang yang naik tahta menggantikan Sultan Mahmud Badaruddin II.

Pada tanggal 17 September 1757 tersebut, Sultan Adi Kesumo memerintahkan punggawanya untuk mencari Pangkal atau Pengkal. Pangkal ini nantinya akan menjadi tempat kedudukan Demang yang bertugas mengawasi parit penambangan timah, sera mengawasi para pekerja asing.

Di antara Pangkal yang ditemukan yaitu Pangkal Bendul, Bunut, Rambat, Parit Sungai Buluh, Tempilang, Lajang, Sungaiilat, hingga Pangkalpinang.

Berikutnya Sultan Palembang mengutus Demang untuk bekerja di masing-masing pangkal yang sudah ditemukan itu. Sejak saat itu, wilayah Pangkalpinang mulai ramai dihuni oleh manusia.

2. Asal-usul Nama Pangkalpinang Secara bahasa, Pangkalpinang terdiri dari dua kata yaitu pangkal dan pinang. Dalam bahasa Melayu Bangka, pangkal sama dengan pengkal yang artinya pusat atau awal mula. Kata pangkal untuk daerah ini merujuk pada keadaannya yang merupakan pusat perkumpulan timah yang kemudian berkembang jadi pusta distrik hingga pusat dagang.

Sedangkan kata pinang merujuk pada pohon pinang, yaitu sejenis palma yang tumbuh di daerah Pasifik, Asia dan Afrika. Pinang juga merupakan nama buah dari pohon tersebut yang diperdagangkan manusia.

3. Sempat Jadi Ibu Kota Negara Indonesia Secara tidak resmi Kota Pangkalpinang sempat menjadi ibu kota negara Indonesia pada periode 22 Desember 1948 sampai Juli 1949.

Di Pangkalpinang ini Presiden Soekarno mengucapkan seloka dari Pangkalpinang Pangkal Kemenangan bagi Perjuangan. Salah satu bukti yang menguatkan hal ini berupa prasasti di Taman Sari yang terletak di sisi utara Lapangan Merdeka.

Tugu prasasti itu diresmikan oleh Bung Hatta pada tanggal 17 Agustus 1949, dan berisi tulisan: “Prasasti Surat Kuasa Kembalinya Republik Indonesia ke Yogyakarta. Diserahkan oleh Ir Soekarno kepada Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Medio Juni 1949”.

Selain itu, wilayah Bangka, khususnya Pangkalpinang pada periode tersebut juga amat penting, sebagaimana pengakuan Mr. AG Pringgodigdo. Dalam memoir Mohammad Hatta, Pringgodigdo berkata bahwa pusat percaturan politik internasional kala itu ada di PBB dan Bangka.

4. Kota Beribu Senyuman Slogan Kota Pangkalpinang berbunyi “Kota Beribu Senyuman”. Slogan tersebut sejalan dengan misi pemimpin daerah tersebut pada tahun 2018 yang mencanangkan Pangkalpinang Kota Seribu Senyuman. Kata Seribu Senyuman merujuk pada “Sejahtera, Nyaman, Unggul, dan Makmur”.

5. Berbatasan dengan Laut China Selatan Kota Pangkalpinang secara geografis berbatasan langsung dengan Laut China Selatan di sebelah timurnya.

Daerah tersebut juga merupakan jalur perairan keluar masuk barang dari pulau lin. Sementara sebelah selatan Pangkalpinang berbatasan dengan Bangka Tengah, sedangkan sebelah utara dan barat berbatasan dengan Kabupaten Bangka.

Kota Pangkalpinang ini memiliki beberapa sungai kecil yang bermuara ke sungai Rangkui dan Sungai Pedindang. Kedua sungai ini berfungsi sebagai pintu keluar air menuju ke Sungai Baturusa yang berakhir di Laut China Selatan.

6. Percampuran Etnis Kota Pangkalpinang berdasarkan data tahun 2020 dihuni oleh 218.569 jiwa atau menyumbang 15,01 persen total penduduk Provinsi Bangka Belitung.

Pangkalpinang termasuk heterogen dari sisi etnis dengan adanya percampuran banyak etnis yang menghuni kota ini. Struktur sosial masyarakat Pangkalpinang didominasi oleh etnis Melayu dan Tionghoa suku Hakka. Kemudian disusul suku pendatang lain seperti Batak, Minangkabau, Palembang, Sunda, Jawa, Madura, Banjar, Bugis, Manado, Ambon, dan Flores.

7. 4 Persen Penduduknya Miskin Berdasarkan data BPS tahun 2020, persentase penduduk miskin di Pangkalpinang mencapai 4,36 persen. Artinya, dari 100 orang di Kota Pangkalpinang, maka sebanyak 4-5 orang di antaranya termasuk golongan masyarakat miskin.

Angka kemiskinan tahun 2020 itu mengalami kenaikan di banding angka kemiskinan Pangkalpinang tahun 2019 yaitu sebesar 4,25. Peningkatan angka kemiskinan di Pangkalpinang tahun 2020 ini diperkirakan sebagai imbas dari pandemi Covid-19.

8. Tempat Wisata di Pangkalpinang Kota Pangkalpinang memiliki sejumlah destinasi wisata yang memiliki daya tarik tersendiri untuk dikunjungi. Beberapa tempat wisata di Pangkalpinang itu antara lain Taman Sari, Taman Merdeka, Museum Timah, Vihara Citra Maitreya.

Kemudian Pantai Pasir Padi, Pantai Telapak Kaki dewa, Pantai Batu Belubang, Makam Belanda atau Keerkhof, Danau Kaolin Bangka, Batu Belimbing, dan sebagainya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERBARU